วันพุธที่ 3 พฤศจิกายน พ.ศ. 2553

Shalahuddin Al Ayubi Sang Penakluk

alt
Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Yakub ad Duwumi atau yang dikenal dengan Shalahuddin Al Ayyubi adalah tokoh dan insan pejuang yang menerangi kegelapan. Ketenaran namanya selalu menjadi buah bibir, baik dari kalangan kawan, sahabat atau pun musuhnya. Malam hari dia gunakan untuk selalu mendekat dan beribadah kepada Rabb-Nya. Air mata selalu membasahi pipinya. Kelopak matanya semakin cekung karena kurnag tidur, ia tumpahkan segala apa yang dirasakannya bersujud tak henti-henti memohon kepada sang khalik apa yang diinginkannya. Siang harinya ia gunakan untuk berjihad di jalan Allah, bagaikan singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Keseharian siang ia gunakan pula waktunya untuk menolong sesama, membantu mereka dengan kedermawanannya. Dari hartanya yang tidak pernah ia sisakan sesampai di rumahnya habis ia bagikan.

Kejayaan dan keheroikannya merampas kembali Baitul Maqdis dari tentara salib terpahat dalam sejarah sebagai lambang pendudukan musuh yang kejam, sikap patriotik dan kepahlawanannya bergabung menjadi satu, dengan sifat kemanusiaan. Rasa tanggung jawab terhadap agamanya, Islam, ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serangan tentara salib ke Palestina, sebagai tanah suci umat Islam ke 2 setelah Masjidil Haram.

Shalahuddin Al Ayyubi juga adalah pahlawan dari seratus pertempuran sejak tahun 1137-1193 M. Nama beliau telah terpatri di hati sanubari pejuang muslim yang memiliki jiwa ksatria. Yang berhasil memporak-porandakan tentara salib pilihan, gabungan dari berbagai negeri di Eropa Pimpinan Richard Lion Heart. Inspirasi, pemikiran dan perjuangannya menjadi keteladanan untuk membina dan mewujudkan jati diri dalam memperoleh kemenangan.

Shalahuddin Al Ayyubi tokoh pejuang yang berjuang tidak dengan nama etnis, tetapi ia berjuang atas dasar aqidah Islam. Berjuang atas nama etnis atau suku tidak akan membuahkan hasil. Sedangkan berjuang atas dasar aqidah Islam pasti kejayaan akan di raih.

Kelahiran dan kebangkitannya
Shalahuddin dilahirkan dalam sebuah keluarga Kurdish di Tikrit pada tahun 532 H/1337 M. Dia telah menghabiskan waktunya 10 tahun untuk menimba ilmu Islam di Damsyik. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub. Ia adalah gubernur wilayah Baalbeek. Selain belajar Islam Shalahuddin pun mendapatkan pelajaran kemiliteran dari pamannya Assadin Shirkuh seorang panglima perang Turki Saljuk.

Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Assaddin Shirkuh memimpin tentaranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang saat itu baru berusia 16 tahun ikut serta dalam berjuang. Pada usia 25 tahun ia berhasil menaklukkan Daulah Fathimiyyah yang dipimpin oleh Adhid Udinillah, yang akhirnya menjadi Khalifah terakhir Syi’ah, yang kemudian berganti menjadi kekuasaan orang-orang Sunni.

Kepribadian dan Akhlaknya
Shalahuddin Al Ayyubi adalah panglima besar yang memiliki jiwa patriotik. Keberaniannya terhadap musuh tiada tara. Tak ada rasa gentar dan takut sedikitpun. Kewara’annya terhadap hal-hal yang subhat sangat beliau jaga. Zuhudnya terhadap dunia sangat ia tekankan. Walaupun ia seorang gubernur pejabat pemerintahan, ia tidak silau oleh harta dunia, apalagi untuk mengejar dunia. Sifat pemurah dan pemaafnya telah diakui oleh kawan maupun lawan.
Seorang sejarawan mengatakan,”Hari kematiannya merupakan kehilangan besar bagi agama Islam dan kaum Muslimin. Karena mereka tidak pernah menderita. Semenjak kehilangan khalifah yang pertama, istana, kerajaan dunia diliputi oleh wajah-wajah yang tertunduk. Seluruh kota terbenam dalam duka cita yang dalam”.

Hidupnya selalu ia habiskan untuk bekerja keras, siang dan malam untuk Islam. Hidupnya sangat sederhana. Minumnya hanya air kosong (putih) tanpa teh atau kopi. Makanannya pun sederhana. Pakaiannya dari jenis yang kasar.Beliau senantiasa menjaga waktu-waktu sholatnya dan mengerjakan secara berjamaah. Beliau suka mendengarkan bacaan Al Qur’an, hadits dan ilmu pengetahuan. Tak ada rasa dendam dalam hati kepada seorang musuh, bahkan ia lebih cenderung untuk memperlakukan musuh dengan sabar.

Diceritakan bahwa pada suatu hari raja Richard dalam kondisi sakit, mendengar kabar itu secara sembunyi-sembunyi Shalahuddin mendatangi kemah raja Richard. Setelah sampai di kemah bukannya dia membunuh raja Richard, sebaliknya ia mengobati sakit sang raja dengan ilmu ketabibannya. Hingga akhirnya raja tersebut sembuh. Sang raja pun terkesan dengan akhlaq dan perilaku Shalahuddin dan ia pun menawarkan gencatan senjata dan menarik pasukannya mundur ke Eropa.

Membangkitkan semangat kaum muslimin
Shalahuddin sedih ketika kondisi umat Islam melemah, tanpa ada gairah. Di sana sini terjadi pertikaian. Sehingga kekhalifahan Islam pun terpecah menjadi dua bagian. Yaitu, Dinasti Fathimiyah yang ada di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Saljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi inilah yang membuat Shalahuddin menjadi sangat prihatin. Menurutnya Islam harus bersatu untuk melawan Eropa, dan juga harus bahu membahu. Pada akhirnya melalui kerja keras dan lobi Shalahuddin berhasil mendamaikan dan mempersatukan kedua Dinasti yang terpecah itu, menjadi satu kesatuan yang damai. Tapi, di sisi lain adanya sebagian umat Islam yang banyak cenderung mementingkan keduniawian, sehingga menyebabkan mereka menjadi loyo dan tak bersemangat dalam berjihad. Maka untuk mengembalikan semangat pasukan kaum muslimin pulih kembali diadakanlah satu festival, yaitu perayaan Maulid Nabi, yang didalamnya diceritakan kembali dan dibacakan sejarah nabi, atsar para sahabat dan cerita-cerita lainnya yang berkaitan dengan jihad, tujuannya untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Festival pun berlangsung selama dua bulan berturut-turut. Hasilnya sangat luar biasa, semangat berjihad kembali muncul, kesadaran berinfaq pun tumbuh. Ini ditandai dengan banyaknya para pemuda-pemuda yang mendaftar untuk membebaskan Palestina dan mereka pun siap untuk mengikuti latihan kemiliteran.

Dan Shalahuddin pun berhasil mengobarkan semangat berjihad dan mengumpulkan para pemuda dari negeri Islam. Pasukan ini pun akhirnya berhasil mengalahkan pasukan salib di Hittin pada 4 Juli 1187 M.

Sang Penakluk Baitul Maqdis
Setelah kejatuhan Baitul Maqdis oleh tentara salib yang dipimpin oleh anak-anak raja Godfrey dari Porraine Perancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse dengan kekuatan tentara berjumlah 150.000 tentara. Terjadinya pembantaian besar-besaran selama 8 hari terhadap kaum muslimin dan orang-orang yahudi yang tidak mau bergabung dengan tentara salib. Jumlah korban terbantai mencapai 60.000 orang, terdiri dari anak-anak, orang tua dan semua orang yang tidak membantu tentara salib.

Ahli sejarah Kristen mengatakan,”Ketika rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan kepada kaum muslimin, orang-orang yang kalah diseret-seret di tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang menyusui, anak-anak gadis dan anak-anak laki dibantai dengan kejam. Tanah, padang bahkan seluruh jalan dipenuhi oleh mayat-mayat. Tak ada sejengkal tanah pun yang tak diisi dengan mayat-mayat.

Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ke tangan pasukan salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota suci yang telah dikuasainya selama hampir 500 tahun itu terlepas dari kaum muslimin. Akhirnya mereka tersadar untuk menghimpun kekuatan kembali, merebut tanah suci mereka. Maka setelah 90 tahun Baitul Maqdis dikuasai oleh pasukan salib. Tentara Shalahuddin bergerak memasuki daerah Hittin dan terjadilah pertempuran yang sengit antara pasukan Shalahuddin dengan pasukan Salib yang dipimpin Reynold Raja Guy yang akhirnya pasukan salib dapat dikalahkan dan Reynold dihukum mati karena terlibat dalam pembantaian. Sedangkan raja Guy dibebaskan.

Selama 90 hari perang Hittin akhirnya Baitul Maqdis dapat ditaklukan dan direbut kembali selama hampir 90 tahun berada dalam cengkeraman musuh. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099.

Sebagaimana dianjurkan Qur’an surat An Nahl ayat 127,”Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”.

Permusuhan dihentikan sesuai firman Allah QS. Al Baqoroh ayat 193 yang artinya,”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”.

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh, tidak ada juga perampasan, tebusan pun dibuat sangat rendah, bahkan mereka para tawanan dipelakukan dengan adil dan manusiawi. Dan ia pun membayarkan tebusan bagi tawanan yang tak dapat menebus dirinya dan membebaskannya. Ini gambaran sosok pemimpin yang berada di jalan Aqidah Islam yang berhati lembut lagi pemaaf.

Pada hari Jumat 27 Rajab 583 H Shalahuddin Al Ayyubi bersama dengan kaum muslimin memasuki Baitul Maqdis mereka meneriakan kalimat “Allahu Akbar”. Rasa syukur yang dalam atas kegembiraan yang didapat. Para ulama, Muhsinin datang mengucapkan salam penghormatan atas perjuangan yang telah berhasil. Apalagi tanggal itu bertepatan pada hari Jumat. Kaum muslimin tidak sempat melaksanakan sholat Jumat dikarenakan sempitnya waktu, karena mereka harus membersihkan masjid suci itu dari sisa-sisa babi, kayu-kayu salib gambar-gambar Rahib, patung-patung. Barulah pada Jumat berikutnya mereka melaksanakan sholat Jumat.

Dikuasainya kembali Yerussalem ke tangan kaum muslimin telah membuat Eropa menjadi marah dan berusaha kembali untuk melakukan peperangan. Merebut kembali kota suci tersebut. Pada akhirnya setiap serangan mereka dapat dipatahkan oleh pasukan Shalahuddin.

Kematian dan penghormatan kepadanya
Sebab-sebab kemenangannya adalah kepemimpinan yang mempersembahkan hidupnya untuk berjihad. Keyakinan Islam telah ada dalam jiwanya. Perasaannya menyala-nyala. Seorang yang amat toleran, merendah diri, sederhana pakaiannya, membelanjakan setiap dinar yang ada padanya untuk berjihad.

Selama berjihad ia membawa sebuah kotak yang selalu tertutup, yang amat dijaganya. Orang lain menyangka itu adalah emas permata atau sesuatu yang sangat berharga. Ternyata, itu adalah sebuah wasiat dan sehelai kain kafan yang dibeli dari usahanya sendiri. Ketika surat wasiat itu dibuka, tertulis tulisan yang dibuat olehnya,”Kafankanlah aku dengan kain kafan ini, yang pernah dibasahi dengan air zam-zam yang pernah mengunjungi ka’bah mulia dalam kubur Rasulullah SAW.

Seluruh kaum muslimin yang menyaksikan kewafatannya meneteskan air mata. Apabila sultan yang mengepalai Negara yang sangat luas dari Asia sampai Afrika hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham. Tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau ladang, villa, tempat peristirahatan. Padahal berpuluh-puluh tahun memegang jabatan panglima perdana menteri.

Kain yang dibuat kafannya betul-betul warisan beliau yang jelas-jelas halal dan sangat sederhana. Ia meninggal pada 7 Safar 589 H di usia 56 tahun. Dikuburkan di sebuah makam yang terletak di luar masjid Ummayah di Damsyik Syiria. Ia dikuburkan bersama pedangnya sebagai saksi kepahlawanannya.

Keistimewaan dan Keunggulan Pemikiran Islam

altIslam adalah wahyu yang turun dari langit untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Oleh karena itu, ia turun sebagai suatu pemikiran-pemikiran yang mengandung pandangan-pandangan dan solusi-solusi tentang berbagai persoalan kehidupan yang tercantum di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Islam dijamin keunggulannya oleh oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Tinggi. Dia SWT berfirman:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan agama itu atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (Qs. at-Taubah [9]: 33).

Juga firman-Nya:

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar Dia menangkan agama itu terhadap semua agama. Dan cukuplah allah sebagai saksi.” (Qs. al-Fath [48]: 28).

Dimana letak keunggulan-keunggulan Islam, tulisan ini mencoba menguraikannya.

Keunggulan Islam Atas Agama-Agama Lain

Keistimewaan dan keunggulan pemikiran Islam dibandingkan dengan agama-agama samawi sebelumnya adalah:

Pertama, agama-agama sebelumnya ditujukan kepada kelompok manusia tertentu dan jaman tertentu. Sedangkan Islam ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat .

Para Rasul terdahulu (sebelum Rasulullah Saw) diutus khusus untuk kaum mereka. Allah SWT mengutus Nabi Hud a.s. kepada kaum ‘Aad (lihat Qs. al-A’râf [7]: 65). Kepada kaum Tsamud Allah SWT mengutus Nabi Shalih a.s. (lihat Qs. al-A’râf [7]: 73). Nabi Syu’aib a.s. diutus kepada kaumnya, penduduk Madyan (lihat Qs. al-A’râf [7]: 85). Dan khusus kepada kaum Yahudi Bani Israil Allah SWT mengutus Nabi-nabi di kalangan mereka seperti Yusuf a.s., Musa a.s., Dawud a.s., Sulaiman a.s., Isa a.s. dan lain-lain.

Namun setelah itu para pengikutnya mengabaikan risalah rasul-Nya itu, dan mengubah pemikiran-pemikiran dari risalah yang mereka terima itu setelah Rasul mereka wafat. Allah SWT mengabadikan salah satu tindakan mereka mengubah pemikiran risalah Allah yang dibawa Nabi mereka itu. Dia SWT berfirman:

“(Tetapi) karena mereka melanggar janji mereka, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihart kekhianatan mereka kecuali sedikit dari mereka (yang tidak berkhianat)…” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 13) .

Sedangkan Nabi Muhammad Saw diutus kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Beliau adalah penutup para nabi. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” (Qs. al-A’râf [7]: 158).

“Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Qs. Saba [34]: 28).

Juga fiman-Nya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Qs. al-Ahzab [33]: 40).

Kedua, risalah-risalah Rasul terdahulu hanya memecahkan beberapa bagian tertentu dari persoalan kehidupan manusia seperti akidah, ibadah, hubungan laki-laki dan wanita atau persoalan makanan. Sedangkan syariat Islam hadir untuk memecahkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhan nya, hubungan dia dengan dirinya sendiri, dan interaksinya dengan orang lain.

Syariah Islam mengandung hukum-hukum Islam terhadap masalah-masalah aqidah dan ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT al Khalik, Sang Pencipta, agar jelas keyakinan manusia kepada-Nya dan agar benar tatacara beribadah kepada-Nya. Syariah Islam juga mengandung hukum-hukum Allah SWT tentang akhlak, pakaian, dan makanan yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Juga syariah Islam mengandung hukum-hukum muamalah seperti jual beli, sewa menyewa, akad perusahaan, dan berbagai masalah ekonomi baik mikro maupun makro; hukum-hukum berkaitan dengan masalah politik ketatanegaraan serta pertahanan dan keamanan; hukum-hukum yang berkaitan dengan sanksi-sanksi atas pelanggaran hukum dan tata cara peradilan; yang kesemuanya itu mengatur hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya dalam pergaulan di masyarakat. Kelengkapan syariah Islam itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 3).

Ketiga, mukjizat para rasul terdahulu bersifat temporal, akan berhenti dan lenyap bersamaan dengan wafatnya rasul tersebut. Misalnya, mukjizat tongkat nabi Musa, tongkat itu hilang ditelan bumi. Tongkat yang memiliki berbagai keistimewaan itu tidak ditemukan lagi hari ini. Demikian juga mukjizat kemampuan menghidupkan orang mati yang dimiliki Nabi Isa, hilang bersama hilangnya Nabi tersebut dari muka bumi. Mukjizat Nabi Sulaiman berupa kemampuannya menundukan burung, jin dan angin, juga telah sirna tiada muncul kembali. Serta mukjizat unta betinanya Nabi Shalih yang menghasilkan susu yang melimpah ruah pun musnah tak bisa diperbaharui. Sedangkan mukjizat Nabi Muhammad saw bersifat kekal dan abadi sampai Hari Kiamat. Mukjizat itu al-Qur’an al-Karim yang menantang manusia untuk membuat yang serupa dengannya. Kitab al-Qur’an yang kita baca hari ini adalah al-Qur’an yang dibacakan dan disampaikan oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu. Dan jutaan kitab al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru duani dan ada dari masa ke massa adalah duplikasi tanpa penambahan dan pengurangan dari al-Qur’an yang diterima oleh para sahabat dari beliau Saw di Makkah dan Madinah saat beliau Saw masih hidup dan mendapatkan wahyu dari langit. Inilah satu-satunya kitab yang dijanjikan oleh Allah untuk dipelihara (dijaga) seperti dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pulalah yang akan menjaganya.” (Qs. al-Hijr [15]: 9).

Keunggulan Islam Dari Pemikiran “Buatan” Manusia

Tiga keistimewahan diatas berhubungan dengan agama lagit atau agama samawi. Bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikira yang dibuat oleh manusia, seperti ide Sosialisme Materialisme, Sekularisme Kapitalisme, maupun ide-ide produk manusia lainnya, Islam jelas berbeda dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Sebab, Islam berasal dari Sang Pencipta semesta alam. Dialah Sang Pencipta yang maha mengetahui dan memahami karekteristik manusia. Sedangkan manusia penuh dengan keterbatasan, termasuk dalam memahami dirinya sendiri sekalipun.

Oleh karena itu, tak seorang yang mampu membuat sistem yang bersifat menyeluruh, sempurna dan rinci untuk mengatur kehidupan manusia layaknya aturan yang diturunkan oleh Sang Pencipta Manusia dan Alam Semesta kepada manusia. Karena kekurangan manusia yang punya sifat-sifat yang kjauh dari kesempurnaan, tidak jarang manusia saling berbeda pandangan dan memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai dan memahami sesuatu.

Demikianlah, apa yang dianggap baik sebagian manusia kadang-kadang dianggap buruk oleh yang lain. Disisi lain tidak mungkin secara bersamaan mereka rela dengan aturan yang dibuat orang lain. Bahkan golongan yang tidak ridha tadi bila berhasil memegang tampuk pemerintahan, niscaya mereka akan mengganti sistem yang tadinya dibuat oleh orang yang sebelumnya- sesuai dengan apa yang mereka sepakati dan inginkan.

Sebab lain yang menjadikan aturan buatan manusia tidak sempurna dan tidak layak untuk mengatur manusia secara keseluruhan, adalah tidak adanya pemahaman dari manusia pembuat aturan itu tentang perbedaan karakter masing-masing individu yang hidup dalam masyarakat. Mereka juga tidak memahami perkara-perkara apa saja yang akan muncul dan berkembang di masa yang akan datang. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini baik, besok sudah berubah dianggap buruk. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, suatu ketika nanti mereka menganggapnya baik. Bahkan boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, sebenarnya hakikatnya baik, tapi manusia tidak mengetahui hakikat itu. Demikian pula sebaliknya. Allah SWT menjelaskan keterbatasan anggapan manusia itu dalam firman-Nya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah [2]: 216).

Sebagai contoh misalnya arus besar (mainstream) manusia hari ini adalah mendewa-dewakan sistem demokrasi sebagai sistem kehidupan dan sistem kenegaraan yang terbaik di seluruh dunia. Mereka mengadopsi suara terbanyak sebagai cara yang terbaik dalam memutuskan berbagai persoalan. Bahkan mereka menganggap suara rakyat adalah suara Tuhan. Padahal Allah SWT, Tuhan yang sebenarnya, yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, berfirman:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs. al-An’âm [6]: 116).

Jika persoalan yang membutuhkan ilmu dan kepakaran diputuskan dengan suara terbanyak, maka suara seorang pakar yang tahu betul masalah tersebut akan dikalahkan oleh suara dua orang bodoh dan tidak punya keahlian sama sekali dalam masalah itu yang diberi hak suara untuk mengambil keputusan. Padahal, jika suatu masalah diserahkan kepada orang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.

Khatimah

Allah Maha mengetahui apa yang terjadi. Islam yang merupakan syariah Allah telah mengatur secara keseluruhan aktifitas manusia maupun benda yang digunakan sebagai pemuas kebutuhan manusia, baik kebutuhan naluri maupun jasmani. Allah telah memaparkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan pemaparan yang komprehensif, untuk menjelaskan status hukum bagi setiap perkara yang akan terjadi, baik yang menyangkut perbuatan manusia maupun benda yang digunakan oleh manusia.

Oleh karena itu, kaum muslim yang meyakini kebenaran Allah dan rasul-Nya tak perlu lagi ragu untuk mengambil pemikiran Islam sebagai pemikiran dan pemahamannya yang akan berguna baginya untuk memandu pandangan, sikap, dan perilakunya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena Islam adalah pemikiran yang tertinggi dan tidak ada yang melebihnya. Wallahua’lam!

(Muhammad Al Khaththath)

วันอังคารที่ 2 พฤศจิกายน พ.ศ. 2553

Lauren Booth saudara ipar Tony Blair masuk Islam

Lauren Booth: Mengapa Saya Mencintai Islam

Selasa, 02/11/2010 16:18



Lauren Booth, dalam sepekan terakhir ini menjadi salah satu pembicaraan hangat di Inggris. Maklum, Booth sepekan yang lalu menyatakan bahwa ia telah masuk Islam. Bukan apa-apa, yang membuat berita ini seperti mengguncang Inggris, itu karena Booth adalah saudara ipar dari Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris. Bagaimana sebenarnya proses dan kehidupan Booth sekarang? Berikut petikan wawancaranya yang diambil dari The Daily Mail.

Bagaimana perasaan Anda sekarang ini?
Saya tahu ini semua tampak tidak masuk akal, tetapi keputusan untuk memeluk Islam tersebut akan menentukan setiap aspek kehidupan saya bawah rel yang mengekspresikan kegembiraan.

Bisa diceritakan awal mulanya?

Mari kita kembali ke Januari 2005, ketika saya tiba sendirian di Tepi Barat untuk liputan The Mail on Sunday. Saya tidak pernah menghabiskan waktu bersama orang-orang Arab, atau Muslim. Saat saya terbang ke Timur Tengah, pikiran saya penuh dengan kalimat-kalimat biasa : ekstremis radikal, fanatik, kawin paksa, pembom bunuh diri dan jihad.

Saya tiba di Tepi Barat tanpa mantel, dan saya menyimpan otoritas bandara Israel di koper saya.

Saya berjalan di Ramallah, dan seorang perempuan menggamit tangan saya tiba-tiba. Saya menggigil. Ia berbicara cepat dalam bahasa Arab, membawa saya ke sebuah rumah di sisi jalan. Apakah saya diculik oleh seorang teroris tua? Selama beberapa menit, dari lemari pakaian putrinya, ia mengeluarkan mantel, topi dan syal.

Saya kemudian dibawa kembali ke jalan dan dipeluk hangat. Tidak ada kata apapun ketika itu di antara kami. Itu adalah sebuah kemurahan hati yang tidak pernah saya lupakan.

Kemudian?

Secara bertahap saya menemukan ekspresi seperti MasyaAllah!', 'Alhamdulillah!' dalam percakapan sehari-hari saya. Saya selalu berdoa dan, sejak kecil, telah menikmati cerita Yesus dan para nabi kuno. Saya sekolah di Brownies, saya dibesarkan dalam rumah tangga yang sangat sekuler. Saya, dulu selalu bangga dengan rambut pirang indah saya dan, ya, tubuh saya.

Selesai?

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan empat hari dengan mahasiswa perempuan, semuanya mengenakan jilbab lengkap. Mereka adalah temen-teman yang memesona, independen dan vokal. Mereka bukan gadis pemalu, tidak dipaksa kawin seperti yang saya bayangkan.

Saya sering datang ke masjid. Di sana, ada anak-anak yang bermain, nenek duduk membaca Al-Quran di kursi roda dan sebagainya.

Anda sempat ragu dengan pilihan hidup Anda?

Saya bertanya; apakah saya siap masuk Islam? Apa yang akan dikatakan dunia, teman-teman dan keluarga saya? Apakah saya siap untuk untuk berperilaku moderat dalam banyak hal?

Dan inilah hal yang benar-benar aneh. Saya tidak perlu khawatir tentang hal-hal itu, karena entah bagaimana menjadi seorang Muslim itu sangat mudah.

Sudah sejauh mana Anda membaca Al-Quran?

Sejauh ini saya baru sampai 100 halaman saja, beserta terjemahannya. Al-Quran adalah teks yang serius. Ini akan membantu saya untuk belajar bahasa Arab tapi itu juga akan memakan waktu cukup lama. Saya berhubungan dengan beberapa masjid di London Utara, dan saya berharap bisa rutin mengunjunginya, setidaknya sekali seminggu.

Menurut Anda, jilbab itu bagaimana?

Pakaian sederhana. Mengenakan jilbab berarti saya siap untuk pergi keluar lebih cepat daripada sebelumnya. Padahal saya baru saja mencat merah rambut saya beberapa minggu yang lalu. Ini adalah negara toleran dan tidak ada yang tampak curiga sejauh ini.

Reaksi teman-teman Anda yang non-Muslim?

Mereka penasaran ketimbang memusuhi saya. Mereka bertanya: 'Apakah itu akan mengubah kamu?’, ‘Kita masih teman kan?’, ‘Kita masih minum (bir) kan?’.

Jawaban Anda?

Jawaban atas dua pertanyaan pertama adalah ya. Yang terakhir tentu tidak. Saya berasal dari latar belakang keluarga yang alkoholisme. Saya akan menghindari barang-barang (memabukan) itu. Apa yang bisa lebih baik? Saya tumbuh di sebuah rumah tangga yang penuh dengan alkohol, dengan ayah yang kejam. Itu adalah luka yang tidak akan pernah pulih.

Apakah keluarga Anda mendukung?

Saya belum pernah bertemu lagi dengan ayah saya selama bertahun-tahun. Jadi bagaimana dia bisa tahu apa-apa tentang saya atau memiliki pandangan yang valid tentang masuknya saya ke dalam Islam? Aku hanya merasa kasihan padanya. Sisanya keluarga saya sangat mendukung.

Anda akan menikah lagi?

Ini bukan saatnya bagi saya untuk berpikir tentang membangun hubungan dengan pria. Saya pulih dari pernikahan yang pecah. Dan sekarang akan melalui perceraian. Jika waktunya tiba, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk menikah lagi, namun dengan suami yang Muslim.

Apakah anak Anda akan juga akan menjadi Muslim?

Saya tidak tahu, itu terserah mereka. Anda tidak dapat mengubah hati seseorang

Bagaimana reaksi mereka ketika Anda memberitahu Anda masuk Islam?

Saya ketika itu duduk di dapur dan memanggil dua anak gadis saya. “Girls, aku punya berita untuk kalian. Aku sekarang seorang Muslim." Yang tertua, Alex, berkata: "Kami memiliki beberapa pertanyaan." Mereka membuat daftar pertanyaan dan mengajukannya kepada saya. Alex bertanya: 'Apakah Ibu minum alkohol lagi? " Kujawab, “Tidak!” Respon mereka: 'Yay!". Kemudian “Apakah Ibu merokok lagi?” lalu saya menjawab: “Tidak”. Pertanyaan yang paling mengejutkan adalah: “Apakah Ibu akan menunjukkan (maaf) payudara Ibu di depan publik lagi?". 'Sekarang aku ini Muslim," kata saya,"Aku tidak akan pernah lagi menunjukkan payudaraku di depan umum lagi."

Dan kemudian?

Mereka berteriak, "Kami cinta Islam!” dan pergi bermain kembali. Dan saya juga mencintai Islam.

(sa/dailymail)

วันจันทร์ที่ 1 พฤศจิกายน พ.ศ. 2553

Arti Nama-Nama Bulan Hijriyah







Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).

Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.

Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.

Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.

Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:

MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

RABI'ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

RABIU'ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.

RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

SYA'BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.

DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.

DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.

วันอาทิตย์ที่ 31 ตุลาคม พ.ศ. 2553

أين الخلل ......؟

DI MANA PUNCA KELEMAHAN UMAT ISLAM MASA KINI


Penulis : Prof Dr. Yusof al-Qardhawi

Sebuah buku kecil yang padat dengan pendapat dan pandangan konkrit dari seorang ilmuan terkemuka abad ini. Meneliti hujah-hujah dan kritikan pedas Dr Yusuf al-Qardhawi seharusnya menyedarkan kita umat Islam yang terlena berabad lamanya kerana sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia ini tidak sepatutnya kita menjadi beban kepada orang lain bagi memenuhi keperluan hidup kita baik di bidang ekonomi, ketenteraan dan lain-lain. Kita adalah umat yang banyak bercakap tetapi sedikit bekerja, jadi tidak hairanlah kita umat Islam yang berjumlah 1.6 billion bertekuk lutut di bawah si Yahudi yang hanya berjumlah tiga juta!

BAHAGIAN 1: UMAT ISLAM YANG LUPA DIRI

Apabila kita meneropong umat kita dengan menggunakan teropong Allah s.w.t. yang terdapat dalam al-Quranul Karim, maka kita akan menemukan umat itu sebagai umat lain, bukan sebagai umat al-Quran yang dilukiskan oleh Allah s.w.t. sebagai umat terbaik, yang dijelaskan alasan terbaiknya kerana mereka menyeru orang berbuat makruf dan mencegah orang berlaku mungkar, serta beriman kepada Allah s.w.t.

Ia melihat makruf sebagai sesuatu yang mungkar dan melihat yang mungkar sesuatu yang makruf. Malah lebih dari itu, ia menyuruh orang berbuat mungkar dan mencegah mereka berbuat makruf, sehingga dilanda fitnah yang tidak ditemukan hujung pangkalnya, yang membuat intelektual muslim menjadi bingung.

Secara ringkas dapat dikatakan bahawa umat kita telah melupakan Allah, lalu Allah melupakan dia pada dirinya sendiri dan Maha Besar Allah dengan firman-Nya yang bermaksud:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah melupakan dia pada diri mereka sendiri” (al-Hasyr: ayat 19)




UMAT KITA DILIHAT DARI KEMAJUAN MATERIAL

Umat Islam selalu saja menjadi beban bagi umat-umat yang lain dalam memenuhi keperluan hidupnya, baik di bidang ekonomi, ketenteraan atau bidang-bidang lainnya. Ia belum pandai memproduksi keperluannya sendiri atau untuk memproduksi keperluan senjatanya untuk melindungi kedaulatan dirinya sendiri.


KEKUATAN AKAL KITA DI SIA-SIAKAN

Kekuatan akal kita sia-siakan, kerana kita bagaikan burung tiung hanya suka meniru. Kita tidak mahu berijtihad, tidak suka mencipta sendiri, tidak kreatif, senang menghafal daripada berfikir dan lebih senang mengutip fikiran orang lain, baik fikiran pendahulu kita ataupun masyarakat lain, kerana kita menganggap tidak perlu bersusah payah berfikir sendiri Suatu ketika dahulu Moshe Dayan (bekas Menteri Luar Israel), menyatakan secara terbuka cita-cita dan keinginan negaranya. Dia mendapat serangan dan kecaman dari bangsanya, kerana mereka khuatir pernyataanya itu dibaca oleh bangsa Arab (umat Islam) dan rencana jahatnya diketahui. Namun dengan tenang ia menjawab serangan kaumnya, katanya: “Tenanglah, pecayalah padaku, bangsa Arab (dan juga Melayu –Pent) tidak akan membacanya, kerana mereka tidak suka dan malas membaca”.

Inilah kenyataan pahit yang dimiliki suatu umat yang ayat pertama dalam kitab yang diturunkan kepadanya memerintahkan; “Iqra” (bacalah). Ternyata mereka malas dan tidak suka membaca. Kalaupun membaca, mereka tidak pandai memahami, kalaupun memahami, mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.

KEKUATAN AMAL KITA DI SIA-SIAKAN

Amat menyedihkan, umat kita merupakan umat yang paling sedikit dalam berbakti dan amal perbuatannya, tetapi yang paling banyak bercakap dan berdebat. Kita banyak bicara dan sedikit kerja. Andaikata bekerja, kita hanya mengerjakan sesuatu yang kurang penting dan meninggalkan yang penting, malah kadang-kadang kita mengerjakan yang tidak bermanfaat sedikitpun.

Saya banyak mengikuti seminar Islam dan banyak keputusan yang sudah disepakati untuk dilaksanakan, tetapi sedikit sekali yang dilaksanakan dan sebahagian besar hanya di atas kertas.

KEKUATAN EKONOMI KITA DI SIA-SIAKAN

Kekuatan ekonomi kita disia-siakan, padahal kita hidup di bumi terbaik, yang paling baik daerahnya, paling subur tanahnya, paling kaya bahan galiannya, tetapi kita tidak memanfaatkan kekayaan itu.


KEKUATAN TENAGA KITA SIA-SIAKAN

Kekuatan tenaga manusia kita sia-siakan, meskipun kita selalu membangga diri dengan jumlah yang sangat ramai, tetapi apalah ertinya jika membuat hal masing-masing tanpa mempedulikan orang lain.

Seharusnya kita mengambil manfaat dari kekuatan tenaga manusia (manpower) kita, seperti yang dajarkan Jamaluddin al-Afghani kepada bangsa India dahulu. Katanya: “Jika kekuatan jutaan kamu itu berupa lalat yang meraung-raung di telinga Inggeris, tentu kamu akan berhasil memecahkan telinga mereka”.

KEKUATAN JIWA KITA SIA-SIAKAN

Kurikulum pelajaran kita tidak mampu menterjemahkan erti dan sifat “Rabbaniyah” ke dalam jiwa kita. Tepat sekali apa yang dikatakan penyair dan pemikir Islam, Muhammad Iqbal, ketika mengatakan tentang “sekolah-sekolah moden”, bahawa ia boleh membuka mata generasi muda untuk mempelajari berbagai hakikat dan pengetahuan, namun ia tidak mengajari matanya bagaimana menangis dan tidak mengajari hatinya supaya khusyuk.
Musibah paling tragis yang menimpa umat kita dewasa ini ialah menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau dan menjadikan permainan dan senda gurau sebagai agama!
Bagaimana tidak, kita telah tergila-gila menghiasi tembok masjid dengan ayat-ayat al-Quran, tetapi tidak menghias kehidupan kita dengan al-Quran. Kita membacakan al-Quran untuk orang-orang mati, tetapi tidak mengajarkannya kepada orang-orang hidup! Kita berusaha memiliki al-Quran, membawanya berkah, padahal berkah yang hakiki terletak dalam mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan Nya.
Saya selalu mengatakan dan akan selalu mengatakan, bahawa kunci keperibadian umat ini dan kebanggaan kekuatannya terletak pada keimanan kepada Islam, yang telah menjadikannya sejak dahulu sebagai umat terbaik yang dikirimkan untuk seluruh manusia dan telah memberikan kemenangan atas golongan kuasa besar, meskipun kekuatan tenaga manusianya sedikit dan kelengkapan senjatanya sangat minima.
Kita memiliki aqidah terbesar, risalah paling lengkap, kita memiliki kitab Ilahi satu-satunya yang terjaga dari kerosakan dan pemindaan oleh tangan-tangan jahat, namun kita dilanda lupa diri, tidak menyedari sumber tenaga dan kekuatan yang ada pada diri kita sendiri.
Rahsianya terletak pada penyakit yang merosak batin kita, berupa rasa cinta dan keinginan pada hal-hal yang gemerlapan, lebih senang hidup bermegah-megah yang dinamakan oleh hadith itu sebagai “wahan” dan ditafsirkan sebagai “Cinta dunia dan takut mati!”
Maka tidak menghairankan, kalau umat yang terbilang seribu juta itu, terdiri dari umat yang bertutut di bawah si Yahudi yang hanya berjumlah tiga juta!.
TANGGUNGJAWAB PARA PENGUASA

Memang pertanggungjawaban terbesar atas kesalahan-kesalahan yang telah menjerumuskan kita, terletak di bahu para penguasa kita.
Tetapi yang jelas juga bahawa para penguasa itu pada umumnya sama saja dengan rakyatnya, kerana mereka merupakan lambang keadaan masyarakatnya.


TANGGUNGJAWAB PARA ULAMA

Memang ramai ulama’ yang tidak menunaikan tugasnya dengan baik dalam menyampaikan agama Allah dan ada pula di antara mereka yang membonceng kenderaan pemerintah dan menjadikan ilmu ( agama ) sebagai hamba politik dan menjadikan dirinya seperti mesin pengeluar ‘fatwa’ , sesuai pesanan orang atasannya.
Sebenarnya ulama’ dewasa ini bukan lagi sebagai pemain tunggal seperti halnya pada zaman dahulu. Kerana pemilik media cetak, elektronik dan pusat-pusat penerangan nampaknya lebih kuat pengaruhnya dalam masyarakat, daripada ulama’ yang berpidato dari atas mimbar. Meskipun mereka masih memiliki pengaruh kuat yang tidak dimiliki oleh yang lain.
Salah seorang bertanya pada seorang penguasa tentang kekuatan al-Imam al-Hasan al-Bashri dan ketegasannya yang tidak tergoyah. Maka Gabenor negeri itu menjawab secara terus terang: “Kami perlukan agamanya, tetapi dia tidak perlukan dunia kami”.
TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT
Saya masih ingat, pada suatu hari seorang pendengar menegur gurunya selesai memberikan ceramahnya, katanya: “Saya telah mendengar dan mengikuti ceramah yang bapa berikan selama tiga puluh tahun, lalu apa yang telah bapa lakukan?”
Jawapan guru itu membuat muridnya terdiam, katanya, “Kalau telah tiga puluh tahun mendengarkan ceramahku, lalu sudah sejauh mana kamu melakukannya?”

BAHAGIAN 2: PERGERAKAN ISLAM
Pergerakan Islam ialah semua jemaah kerja yang berusaha untuk memperbaharui agama, dalam erti hendak melaksanakan hukum syariat dan menghidupkannya dalam peribadi umat, untuk mengembalikan kejayaannya yang gemilang dalam memimpin masyarakat dan melaksanakannya dalam berbagai lapangan hidup, baik di segi aqidah, ibadah, akhlak, muamalat ( jual-beli), dalam fikiran, perasaan, undang-undang, pengarahan masyarakat, dalam bidang eksekutif dan yudikatif.
Tetapi nampaknya, pergerakan Islam ini tidak berhasil merealisasikan apa yang dicita-citakan , sebagaiamana harapan umat dan sebagaimana yang selalu dilanung-laungkan oleh para pimpinannya.
TIADA PENGHISABAN DIRI
Keluhan pertama yang sangat dirasakan oleh para pakar dalam pergerakan Islam, bahawa usaha menghisab diri adalah sangat lemah, atau boleh dikatakan pada umumnya tidak ada.
Ulama’ zaman dahulu berkata: “Orang mukmin sangat keras memperhitungkan dirinya, lebih dari seorang penguasa yang diktator dan dari seorang sekutu yang kikir.”
PERPECAHAN DAN PERSELISIHAN

Salah satu penyakit pergerakan Islam moden adalah adanya perpecahan parah yang kita saksikan antara bahagian-bahagiannya yang beragam. Masing-masing merasa kebenaran itu hanya ada dalam jamaahnya saja, sedang di luar jamaahnya hanyalah kesesatan. Yang dapat masuk syurga dan selamat dari api neraka hanya dimonopoli oleh anggota jamaahnya, hanya dia saja yang merupakan “kelompok yang selamat”, selain dari itu termasuk kelompok yang sesat.
Alangkah baiknya jika masing-masing bebaik sangka terhadap yang lain, saling bertimbang rasa (toleransi) meskipun dalam keadaan yang berbeza, saling tolong menolong dan tegur menegur dalam berbuat makruf dan berdiri dalam satu barisan menghadapi masalah-masalah yang besar, iaitu kewujudan Islam dan penentuan hari depannya dan bersatu padu dalam menghadapi serangan musuh, baik dalam bentuk Yahudisme, Salibisme, mahupun berupa Komunisme, Kapitalisme dan Sekukarisme.
Pergerakan Islam tidak boleh mengabaikan individu-individu yang kuat bekerja di lapangan dakwah, meskipun mereka bekerja secara sendirian, hanya mempunyai pengaruh dalam lingkungannya dan pada murid-muridnya dan mereka masing-masing mempunyai sekolah dan pengikut. Sudah tentu ramai di antara mereka yang jujur dan ikhlas, yang mampu menggerakkan pendapat umum dan mengarahkannya, jika mereka mahu dan di dukung oleh pengarahan yang tepat.

KURANGNYA PENYELIDIKAN DAN PROGRAM
Kita harus sentiasa mengadakan penyelidikan tentang perkembangan keadaan umat Islam, keadaan pergerakan Islam dan keadaan serta kekuatan pihak yang memusuhi Islam. Semua keterangan dan maklumat itu, dianalisa secara ilmiah dan bertanggungjawab, sehingga diperoleh hasil yang diperlukan untuk digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan langkah selanjutnya.
Adapun yang paling utama untuk diprogram dan direncanakan ialah memupuk bakat para anggotanya sejak awal lagi, membimbing dan meningkatkannya dalam berbagai bidang kehidupan seperti dalam sudut ilmu, syariat, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, penerangan, pemerintahan, statistik dan sebagainya untuk mengisi kekosongan dan memenuhi keperluan masyarakat. Dan perlu juga mengetahui dan mempelajari apa yang sedang dikejar oleh masyarakat beradab dan moden, seperti dalam dunia komputer dan senjata nuklear, alam luar angkasa dan teknologi canggih lainnya.
Sekarang ini terjadi hal sebaliknya, mereka (golongan di luar Islam) sibuk dalam dunia yang setiap hari menambah hal-hal yang baru seolah-olah suatu lompatan dalam ilmu dan teknologi. Sementara kaum muslimin masih bertikai sama sendiri dan hidup dalam alam mimpi dan senda gurau, sedang umat lain bekerja keras. Kaum muslimin lebih banyak berbicara yang tidak mempunyai manfaat sedikitpun bagi dirinya dan umatnya.
Kita bekerja tanpa rencana dan program, sedang lawan-lawan kita tidak demikian, akhirnya hasil perjuangan kita jatuh ke tangan mereka, dalam keadaan kita tidak menyedarinya.
TERBURU BURU

Kita menanam pada pagi hari dan ingin memetik hasil pada petang harinya. Ini bertentangan dengan hukum Allah dalam alam yang sudah diterima oleh seluruh umat manusia. Segala sesuatu yang ada berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan dan diproses menurut lazimnya.

BERLEBIH-LEBIHAN

Beberapa penyakit yang sering menjangkiti umat kita ialah suka bertindak berlebih-lebihan dan di luar hukum. Suatu perkara yang disesalkan dari kita iaitu, ketika menghadapi berbagai masalah, kita lebih suka berdiri pada salah satu hujung dari kedua kutub, iaitu paling kanan atau paling kiri. Jarang kita berdiri dan bersikap “tengah-tengah”, yang Allah puji untuk dijadikan tempat berpihak dan bersikap umat ini, seperti dalam firman Nya.
Terjemahannya:
“Begitulah kami jadikan kamu umat pertengahan” (al-Baqarah ayat 143 )
Penyakit ini telah menulari pergerakan Islam, sehingga sikap berlebih-lebihan memuji diri sendiri, berlebih-lebihan dalam mengecam lawan-lawannya dan berlebih-lebihan dalam berbagai kegiatan lainnya.
Para pemerhatit melihat pergerakan Islam moden dewasa ini sangat berlebih-lebihan menilai besar kekuatannya, berlebih-lebihan menilai kelemahan lawannya, terlalu meremehkan berbagai rintangan yang dihadapi dalam perjalananan, terlalu tinggi memuji diri, terlalu rendah menilai lawan, berlebih-lebihan kalau sedang cinta dan begitu pula kalau sedang benci.
TAKUT DENGAN PEMBAHARUAN
Inilah satu titik lemah dalam pergerakan Islam. Ia takut dari ijtihad, tidak senang pada pembaharuan, tidak cenderung pada keterbukaan dan tidak menyenangi perkembangan dan perubahan.

MARI BERCITA-CITA DAN BEKERJA
Sebenarnya di sana ada harapan yang menggembirakan, menyonsong datangnya hari depan yang lebih baik dan menyedari sudut-sudut kekurangan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan kesempurnaan.
SEBAHAGIAN KEJAYAAN PERGERAKAN ISLAM

Pergerakan Islam telah berhasil memperbaiki pemahaman-pemahaman Islam yang diperburuk oleh zaman jumud atau oleh masa penjajahan dan mengusir kebudayaan yang pernah menguasai gelanggang yang dikosongkan beberapa saat lamanya dan memperhambakan akal para cendekiawan umat kita.
Pergerakan Islam berhasil memulihkan masyarakat muslim rasa keperibadian Islam, rasa bangga menjadi anggota “Khaira ummatin ukhrijat lin naasi”, (umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia), sehingga tertanamlah dalam hatinya cita-cita akan lahirlah hari esok yang cemerlang, sesudah mengalami putus asa yang panjang akibat berbagai kekalahan dan kejatuhan, kerana pengaruh dari luar dan kezaliman dari dalam.
Pergerakan telah berhasil melahirkan suatu generasi muslimin dan muslimat yang patuh dengan ajaran Islam, baik dalam iktiqad, ibadah, fikiran, kelakuan baik, dakwah dan dalam jihad.
Pergerakan ini juga telah merekrut generasi masa depan yang patuh dan berdisiplin , yang sentiasa mendukung dan mencintai dakwahnya, menyatakan kepatuhan pada syariatnya, menolak kekafiran dan sekularisme.
Pergerakan Islam juga telah mempunyai kekuatan dalam mewujudkan apa yang diistilahkan sebagai “kebangkitan Islam” moden, yang meliputi para cendikiawan, baik lelaki mahupun wanita di seluruh penjuru tanah air kaum muslimin dan di luar dunia Islam , seperti Eropah, Amerika dan di Timur Jauh.
PERLU BANYAK KERJA DAN PENGORBANAN
Pergerakan Islam hendaknya beralih dari kegiatan berbicara kepada kegiatan bekerja, agar mampu membebaskan dirinya dari penyakit yang hampir menjadi penyakit umum kaum muslimin, yang selalu menjadi perintang bagi kita untuk melangkah maju, iaitu banyak menangisi masa lalu dan kurang kerja untuk masa kini. Kerana tangis kita itu tidak boleh menghidupkan yang sudah mati dan tidak mampu mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.
Dalam menghadapi berbagai penyakit, ramai di antara kita yang mengeluh tetapi sedikit yang mengubati. Banyak yang mengutuk kegelapan dan sedikit yang menyalakan lilin.
Ya, kita terlalu berkeluh-kesah kerana sakit dan menderita, sehingga tidak ditemukan seorangpun yang tidak mengeluh, lalu apa yang harus menampung keluhannya itu? Kita semua berkeluh-kesah dan kita sendiri yang menerima keluhan-keluhan itu.
Pergerakan Islam dewasa ini perlu keluar dari lingkaran keluh-kesah dan mengumpat pada zaman lampau ke lapangan kerja, bekerja keras dan terus-menerus bekerja demi agama Islam, sesuai dengan tuntutan zamannya dan sesuai dengan apa yang dilakukan orang-orang lain terhadap agama mereka. Bekerja untuk masa kini, bekerja untuk masa depan, bekerja untuk membangun dan bekerja untuk memelihara bangunan itu dari tindakan penghancuran musuh.
BEKERJA UNTUK MEMIKAT TOKOH DAN MASYARAKAT
Pergerakan Islam hendaklah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memikat hati para tokoh dan masyarakat, untuk menghilangkan tembok pemisah antara pergerakan dan banyak tokoh intelektual dari satu sudut dan dengan masyarakat awam disudut lain.
Pergerakan Islam hendaklah bekerja keras membongkar pagar pemisahan dan menghancurkan tembok buatan dan mulai bekerja dengan semangat baru untuk menembus kalbu masyarakat, yang juga merupakan wadah mereka, dari mereka, kepada mereka dan untuk mereka. Masyarakat kita percaya dengan fitrah dan sejarahnya, mereka bersama pergerakan Islam dan akan selalu bersama mengumandang keimanan, seperti yang dapat dilihat dari fakta dan dengan membaca sejarah.
Pergerakan akan berjaya selagi ia merupakan pergerakan semua kaum muslimin dan bukan hanya pergerakan segelintir umat Islam.
MENYULUH KEBANGKITAN ISLAM
Di antara perkara yang melambatkan kebangkitan Islam :
Menjauhkan masyarakat dari Islam sebagai tatacara yang mengatur kehidupan, selama orang-orang yang menjadi objek dakwahnya dan calon anggota pergerakan kebangkitan merasa sulit dan berat mengikutinya, kerana yang dimudahkan Allah kepada hamba-Nya dipersulit mereka, bertentangan dengan sabda Nabi s.a.w. yang menyatakan.
“Sesungguhnya kalian dibangkitkan untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan”
Generasi yang merupakan tulang punggung kebangkitan Islam itu disibukkan dengan masalah-masalah remeh dan kurang berguna dengan mendakwahkan soal-soal furu’, suka berdebat dan bertengkar dan mengabaikan soal-soal besar yang menentukan, yang berkaitan erat dengan peradaban Islam, dengan dominasi umatnya, dengan pembebasan tanah airnya dan dengan pelaksanaan hukum syariatnya di muka bumi.
Pergerakan Islam disibukkan dan diadu domba satu sama lain. Seharusnya pergerakannya diarahkan kepada musuh yang dihadapi bersama, bukan bermusuhan antara satu dengan yang lain sehingga pada puncaknya mereka saling mengkafirkan.
Pergerakan telah memberikan kesempatan kepada penguasa yang sentiasa mengawasi pergerakan Islam, yang sentiasa dirundung rasa takut atau rasa benci, untuk memukul jatuh pergerakan Islam dan semua kerja keIslaman.
PANDUAN UTAMA PENYULUH KEBANGKITAN
Kita harus berpindah kepada perkara-perkara penting sebagaimana berikut:
1.Dari soal furu’ kepada soal usul dan universal
2. Dari kerja nafilah (sunnah) kepada kerja fardu
3. Dari hal-hal yang diperselisihkan kepada hal-hal yang disepakati
4. Dari kerja anggota tubuh kepada kerja hati
5. Dari kedua-dua sudut kelebihan dan kekurangan kepada hal-hal yang sedang dan normal
6. Dari sikap mempersulit dan menjauhkan orang kepada sikap mempermudah dan menggembirakan hati
7. Dari sikap jumud dan taklid kepada sikap ijtihad dan renovasi
8. Dari fasa bicara dan debat ke fasa kerja dan memberi
9. Dari masa sentimen tanpa persiapan ke masa ilmiah berencana
10.Dari sikap fanatik terhadap orang-orang yang berbeza pendapat kepada sikap toleransi bersama mereka
11.Dari menggalakkan bekerja kepada menanamkan pengertian.
12.Dari memperhatikan soal-soal kuantiti kepada soal-soal kualiti, terutama dalam bidang pendidikan dan pengkaderan.
13.Dari melayang-layang ke langit impian turun ke bumi kenyataan (atau daripada menghulur idealisme lebih baik mengharap yang mungkin dan yang sudah ada).
14.Dari sikap meninggikan diri atas masyarakat kepada sikap hidup bermasyarakat (atau dari sikap menuduh dan memusuhi masyarakat berusaha menjadi tabib masyarakat).
15.Dari sikap yang hanya merenungi kejayaan masa lampau, kembali pada kenyataan masa kini dan mempersiapkan zaman yang akan datang.
16.Dari menghanyutkan diri dalam lapangan politik kepada memusatkan aktiviti-aktiviti kemasyarakatan.
17.Dari mengobarkan perselisihan yang menimbulkan pertentangan dan pertengkaran kepada perbezaan yang beragam dan bergotong-royong.
18.Dari mengabaikan masalah kehidupan kepada meningkatkannya dengan motivasi lillahi Ta’ala, sebagai amal ubudiyah.
19. Dari pandangan dan sikap yang regional yang sempit kepada wawasan universal yang luas.
20. Dari sikap ujub terhadap diri sendiri kepada sikap memeriksa diri.
KERJA KEMASYARAKATAN
Seharusnya pergerakan Islam terjun ke bidang kemasyarakatan demi mengabdikan diri kepada agama dan umatnya dan jangan sampai kegiatan politik hanya menghabiskan tenaga dan waktunya.
Lapangan dalam bidang kemasyarakatan tidak banyak digeluti oleh kaum muslimin, sehingga lawan-lawannya berhasil menguasai lapangan itu untuk menyebarluaskan agamanya yang menyimpang di tengah-tengah orang lapar, orang sakit, orang buta huruf dan di tengah orang-orang terlantar di antara anak-anak umat kita.
Itulah yang mendorong kami untuk membentuk suatu “Lembaga Sosial Islam Antarabangsa” yang bekerja dengan sekuat tenaga untuk memberi makanan bagi yang lapar, memberi pakaian bagi yang telanjang, memberi ubat bagi yang sakit, pemeliharaan bagi anak yatim, tempat berteduh bagi yang terlantar, pengajaran dan pendidikan bagi yang bodoh, kerja bagi para penganggur, latihan keterampilan bagi yang akan kerja dan berusaha keras dalam mengembangkan kemasyarakatan Islam dari dalam tubuhnya sendiri.
KERJASAMA LAPISAN MASYARAKAT
Sesungguhnya di antara penyakit yang menjangkit kita ialah, banyak penonton dan para penganggur yang hanya berpangku tangan menyaksikan kegiatan pergerakan, padahal wajib bagi mereka untuk bekerja dengan sekuat-kuatnya di lapangan masing-masing, seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala yang bermaksud:
“Katakanlah, hai kaumku, bekerjalah kamu menurut keadaan kamu masing-masing dan aku juga bekerja” (al-An’am ayat 135)
Maka hendaklah kita juga mampu menggerakkan kaum muslimin di seluruh dunia, agar mereka melakukan tugas kewajipannya di bidang masing-masing. Kaum lelaki, wanita, orang tua, anak-anak, orang kaya dan orang miskin. Yang penting semuanya bekerja, masing-masing memilih kerja yang sesuai dan selaras untuk dirinya. Siapa yang mampu membuang duri dari jalan, hendaklah ia membuangnya. Siapa yang biasa menabur benih di bumi, hendaklah ia menaburnya.
BAHAGIAN 3 : PENUTUP

Sesungguhnya kerosakan itu umum dan menyeluruh dan tanggungjawabnya dipikul bersama, meskipun masing-masing berbeza-beza pendapat.
Kalau kami mahu berterus terang, kami akan mengatakan, kerosakan itu terdapat dalam batin kita, dalam diri kita masing-masing, kerana kita terlalu mencintai kita. Kita masing-masing bertawaf di sekitar zat kita, seperti penyembah berhala dengan mengelilingi berhalanya, dalam usaha mencuci bersih diri sendiri dan menunding orang lain. Orang lain selain dari kita sendiri dipersalahkan sebagai yang bertanggunjawab. Kita melihat kotoran pada mata orang lain tetapi tidak melihat kayu pada mata kita sendiri.
Ya, kerosakan itu terdapat pada diri kita semua. Kaum muslimin dituntutnya untuk bekerja, sedang dia sendiri tidak, mereka diperintahkan berjihad, dia sendiri duduk, mereka disuruh menyumbang, sedang dirinya sangat kikir dan mereka dituntut untuk berkorban, sedang dia sendiri menontoninya.
Penyakitnya ada dalam diri kita semua, kerana semuanya beriman kepada Allah dan sekaligus tidak patuh kepada perintahNya. Kita mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi enggan mengikuti ajarannya. Ingin masuk ke syurga, tetapi tidak menempuh jalan-jalannya dan takut pada api neraka, namun senang menempuh jalan yang dapat menghantarkan ke neraka. Senang mengakui dirinya sebagai orang Islam, tetapi enggan bekerja untuk membela agamanya.
Sungguh berbahagia orang yang telah mulai dengan memperbaiki dirinya sendiri, kemudian mengajak orang lain.
Meletakkan tangannya dan berpimpingan tangan dengan semua orang yang sealiran, yang sefahaman dalam berbuat kebaikan, tidak jemu dengan apa yang dilakukan , tidak putus asa dengan apa yang dihadapi, percaya penuh pada dirinya, berbahagia dengan agamanya, beriman dengan Rabb-Nya, sentiasa mengharap bantuan Nya agar memenangkan kaum muslimin.

Adapun hal-hal yang memberi perangsang dan menguatkan harapan kita pada hari depan, antara lain:

1. Sesungguhnya kita ada di pihak al-Haq (kebenaran), yang dengan itu Dia telah menciptakan langit dan bumi.
2. Sesungguhnya kita ada di pihak fitrah Islam, yang Allah berkenan menempatkan manusia padanya, yang tiap-tiap hari berbondong-bondong orang kembali ke pangkuannya, mendapat hidayah sesudah hilang dalam kesesatan, bertaubat sesudah hanyut dalam maksiat, kembali insaf sesudah fikiran dan akhlaknya terbius hawa nafsu atau kembali sedar setelah lama terbuai nyenyak dan kembali bergabung dengan kafilah orang-orang yang kembali iaitu, bersama rombongan Islam.
3. Sesungguhnya kita bersama-sama bangsa-bangsa umat Islam, yang Islam sudah menjadi darah dagingnya, yang tidak mungkin dipisah-pisah dari kewujudannya, baik mental, spiritual mahupun sosial, yang tidak mungkin boleh hidup atau boleh mewujudkan dirinya sendiri, melainkan dengan Islam dan tidak mungkin boleh digerakkan oleh siapapun, seperti yang digerakkan oleh kalimah Islam.
4. Sesungguhnya kita bersama dengan kepentingan umat manusia, yang telah menderita sengsara kerana falsafah hidup manusia dan perundangan bumi.
5. Dan bersama kita sebelum dan sesudah itu semua pertolongan Allah s.w.t. yang berjanji akan menolong orang-orang yang menolong Nya dan menjamin akan memenangkan agama Nya di atas semua agama, meskipun orang-orang musyrik tidak senang, akan menyempurnakan cahaya Nya, meskipun tipudaya lawan terus dilanjutkan.

apakah yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim ?

Nilai Waktu Dalam Kehidupan Muslim

Salam sejahtera untuk semua,

Seandainya ada soalan yang menanyakan, ‘apakah yang paling berharga dalam kehidupan anda?’. Apakah jawapan yang akan kita berikan?. Harta? Anak-anak? Kecantikan? Ilmu? Kesihatan?. Mana satu yang akan kita jawab?

Mungkin segala sesuatu itu dapat dikatakan berharga, namun tidak ada yang paling berharga. Semuanya tidak ada yang menyamai berharganya waktu dalam kehidupan kita. Memang benar, sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan kita setelah keislaman kita adalah waktu.

Sebab itulah kita melihat banyak ayat-ayat Allah bersumpah mengenai masa ataupun zaman. ‘Demi Masa’, Demi Fajar’, ‘Demi Malam apabila menutupi dan siang apabila terang benderang’ merupakan contoh yang Allah bersumpah dengan masa. Namun, apakah signifikannya masa ataupun waktu ini kepada seorang manusia terutama sebagai seorang Muslim.

Saudara sekalian,

Apakah kita tahu bahawa satu penemuan penting yang menjadi perhatian kaum Muslimin di awal kegemilangannya adalah jam? Kaum Muslimin pada saat itu sangat memerhatikan masalah waktu lalu mengembangkannya, meletakkannya di lapangan umum dan juga di ruangan istana. Jam, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga di hati kaum Muslimin sebenarnya.Mengapa? Kerana kehidupan kaum Muslimin terikat dengan waktu. Seorang yang mengaku dia seorang Muslim, hidupnya akan terikat dengan syariat Allah. Dia harus menghargai waktu dalam kehidupannya.

Perhatikan kisah pertemuan Amru Khalid dengan seorang asing.
Beliau(Amru Khalid) dan seorang asing tersebut mengadakan janji untuk bertemu di suatu tempat. Beliau sedikit terlewat sampai di tempat yang dijanjikan. Ketika bertemu dengannya, dia(orang asing) segera bertanyakan kepada beliau. ‘Apakah anda seorang Muslim?’ beliau menjawab, ‘Benar’. Dia kembali bertanya, ‘Apakah anda menunaikan solat? Beliau menjawab, ‘Benar’. Dia bertanya kembali, ‘Apakah anda berpuasa di bulan Ramadhan?’ Beliau menjawab ‘Benar’. Dia bertanya lagi, ‘Apakah anda menunaikan ibadah haji?’ Jawab beliau, ‘ Ya’. Dia bertanya kembali, ‘Apakah anda menunaikan solat Jumaat tepat pada waktunya?’ Jawab beliau, ‘Tentu”.Pada saat itu, dia berkata. ‘Urusan kaum Muslimin mengagumkan sekali.

Agama mereka mengajarkan urusan-urusan besar. Namun, mereka tidak memerhatikan pentingnya urusan-urusan itu’. Begitulah katanya. Amru Khalid merasakan seolah-olah dia berkata kepada beliau, ‘Engkau bukanlah orang beragama. Kerana anda tidsk mengetahui betapa berharganya waktu’. Inilah satu sampel yang boleh kita lihat sehinggakan orang asing lebih mengerti berhargnya waktu itu kepada umat Islam berbanding penganutnya sendiri.

Ikhwah sekalian,

Sesungguhnya umat Muslimin mempunyai banyak kelebihan. Islam mengajar umatnya mengatur masa dengan begitu cantik. Dari siang hari untuk mencari kehidupan hinggalah malam yang menjadi pakaiannya. Dengan adanya solat lima waktu, puasa, haji dan lain-lain lagi menjadikan individu Muslim lebih bijak untuk mengurus masa agar semua kepentingan dapat dipenuhi. Yang nyata, prioriti kepada Allah mendahului segala-galanya.

Jadi, adakah kita seorang Muslim? Dan adakah kita telah mengetahui betapa pentingnya waktu dalam kehidupan kita? Amat rugilah kita jika kita seorang Muslim tetapi tidak berpegang teguh akan nilai, ajaran serta kepentingannya. Oleh itu, sama-sama kita tingkatkan iman, teguhkan pendirian, perbaiki kesilapan dan urusan agar menjadi Muslim yang menjaga waktu.

Apa hukum baca ( TALQIN ) ?

TALQIN. Berdasarkan Hadith Nabi&Mazhab Empat






Penerangan Yang Jelas Tentang Keharusan Hukum Mentalqin Mayat
( Bersandarkan Hadith Nabi Dan Mazhab Empat )


Alhamdulillah, Tuhan Pencipta alam, WujudNya azali abadi tanpa permulaan dan tanpa memerlukan tempat. Selawat dan salam keatas junjungan besar Nabi Muhammad, para sahabat dan ahli keluarga baginda.

Sesungguhnya hukum mentalqin mayat dengan kalimat tauhid “ La ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah ” ataupun dengan perkataan suci yang lain adalah harus hukumnya dari segi syarak dan bersesuaian dengan ajaran agama Nabi Muhammad.
Sememangnya tidak ada dalil dari nas Al-Quran mahupun nas Al-Hadith yang mengharamkan amalan talqin kecuali mereka (antaranya Wahhabi) yang mengharamkannya hanya bersandarkan ianya suatau bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasul. Malangnya nas-nas hadith Nabi jelas bercanggah dengan apa yang mereka dakwa.




Mari kita kupaskan secara ilmiah islamiah.
Hadith Nabi Mengharuskan Talqin

Apa yang didakwa mengenai pengharaman hukum talqin oleh Wahhabi dan kuncu-kuncu mereka yang kerap membuat kacaubilau dalam masyarakat umat islam adalah tidak berasas. Bahkan ianya bertujuan memperlaga-lagakan umat islam yang melakukan amalan tersebut.


Kononnya ianya adalah satu bid’ah yang dah confirm Nabi tak pernah buat dan tak pernah suruh orang lain buat dan bagi Wahhabi siapa buat amalan talqin maka dia dah buat bid’ah dan akan masuk api neraka jahannam.


Benarkah dakwaan Wahhabi itu?

Mari kita singkap hadith Nabi Muhammad sendiri menyuruh amalan talqin yang diriwayatkan oleh Imam At-Tobarony dalam Mu’jam Sighir dan Mu’jam Kabir daripada Abi Umamah Al-Bahily berkata :

[إذا أنا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نصنع بموتانا، أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل: يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعداً، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشدنا يرحمك الله ولكن لا تشعرون، فليقل: اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله وأنك رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً وبالقرءان إماماً فإن منكراً ونكيراً يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول: انطلق بنا ما يقعدنا عند من لُقّن حجته، قال [أي أبو أمامة]: فقال رجل: يا رسول الله فإن لم يُعرف أمه، قال: ينسبه إلى أمه حواء، يا فلان ابن حواء" .

Yang bermaksud : "Apabila aku mati nanti, lakukan padaku sepertimana yang disuruh oleh Rasulullah agar dilakukan kepada mayat, Rasulullah telah memerintah kita dengan sabda baginda: “ Apabila matinya seorang daripada kalanganmu, maka tanahlah dan berdirilah seorang dikalangan kamusemua pada bahagian kepala dikuburnya kemudian katakan Wahai si fulan anak si fulanah, orang itu mendengarnya tetapi dia tidak akan menjawab, kemudian katakan Wahai fulan anak fulanah maka dia duduk, kemudian katakan Wahai fulan anak fulanah maka dia berkata semoga Allah merahmati kamu tetapi kamu semua tidak merasai (apa yang telah berlaku pada si mayat), maka hendaklah dikatakan : Ingatlah apa yang telah menyebabkan kamu dilahirkan kedunia iaitu syahadah tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu hambaNya dan rasulNya dan engkau telah meredhoi dengan allah sebagai tuhanmua dan islam itu agamamu dan Muhammad itu nabimu dan al-quran itu petunjukmu maka malaikat mungkar dan nakir akan mengambil tangannya lantas berkata Ayuh bersama kami bawakan kepada siapa yang telah ditalqinkan hujahnya”
Abu Umamah bertanya kepada Rasulullah Wahai Rasulullah!bagaimana sekiranya tidak diketahui nama ibunya? Rasulullah menjawab “Maka hendaklah dinasabkan kepada ibu manusia iaitu Hawwa dengan mengatakan Wahai si fulan anak Hawwa.” Tamat hadith riwayat Imam Al-Hafiz Tobarony Dalam kitabnya Mu'jam Soghir Wal Kabir.

Hadith yang mengharuskan talqin diatas telah disolehkan sanadnya (ulama hadith menyatakan hadith itu boleh digunakan) oleh Imam Muhaddith dari kalangan ulama hadith iaitu Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitab beliau berjudul At-Talkhis Al-Habir sepertimana yang juga dibawah Kitab Al-Majmuk oleh Imam Nawawi pada jilid 5 muksurat 243 :

وإسناده صالح وقد قواه الضياء في أحكامه

Yang bermaksud : “ Sanad hadith ini adalah boleh digunakan dan hadith ini telah dikuatkan oleh Imam Al-Hafiz Ad-Dhiya dalam kitab Ahkam”.

Maka hadith Nabi Muhammad ini jelas mengharuskan amalan talqin sepertimana jua para ulama salafussoleh berpegang dengan hukum mengenainya.


Tiada seorangpun ulama islam yang muktabar mengingkari amalan talqin ini kecuali sebilangan kecil ajaran sesat dizaman kini yang berhobi sangat dalam memecah belahkan umat islam dengan mendakwa amalan talqin adalah satu bid’ah yang teramat buruk dan siapa melakukan talqin maka dia sesat dan akan masuk neraka jahannam.

Soalan kutujukan pada si penentang amalan talqin :
1- Bagikan padaku ayat Al-Quran yang jelas mengharamkan dan membid’ahkan amalan talqin?
2- Berikan padaku Hadith yang jelas dari Nabi Muhammad yang mengatakan amalan talqin adalah haram atau bid’ah?
3- Sebutkan seorang sahaja ulama salafussoleh @ salafi hakiki ( ulama islam yang hidup sebelum 300H )yang menyatakan amalan talqin adalah haram atau bid’ah?

Saya menunggu jawapan soalan diatas dari Wahhabi dan kuncu-kuncunya dari seluruh pelusuk dunia termasuk ulama-ulama Wahhabi dimana sahaja kamu berada dan apa bahasapun yang kamu pakai.

Disini ingin kubawa buat teman-temanmengenai kata-kata ulama islam ahli sunnah Wal Jamaah mengharuskan amalan talqin dari mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafie dan juga tidak lupa dari mazhab Hambali yang mana sebahagian puak Wahhabi sering mendakwa mereka dari golongan Hambali.


Mazhab Islam Mengharuskan Talqin

Kenyataan Mazhab Al-Hanafi Mengharuskan Talqin

1-Berkata As-Syeikh Al-Alim Abdul Al-Ghony Al-Ghonimy Ad-Dimasyqy Al-Hanafi dalam kitab beliau berjudul Al-Lubab Fi Syarhil Kitab pada jilid 1 mukasurat 125 menyatakan :

: "وأما تلقينه (أي الميت) في القبر فمشروع عند أهل السنة لأن الله تعالى يحييه في قبره".

“Manakala hukum mentalqin mayat pada kubur adalah merupakan syariat islam disisi Ahli Sunnah Wal Jamaah kerana Allah ta’ala menghidupkannya dalam kuburnya”.

Telah jelas bahawa dalam mazhab Hanafi amalan talqin adalah diharuskan bahkan disyariatkan.


Adakah Wahhabi akan membid’ahkan serta mengkafirkan ulama Hanafi kerana mengharuskan amalan talqin? Kenapa wahhabi benci sangat dengan amalan talqin?
Apa kesalahan talqin terhadap kamu wahai wahhabi?


Mazhab Maliki Mengharuskan Amalan Talqin

1- Imam Al-Qurtuby Al-Maliky pengarang kitab tafsir terkenal telah menulis satu bab yang khusus mengenai amalan talqin disisi mazhab Maliki dalam kitab beliau berjudul At-Tazkirah Bil Ahwal Al-Mauta Wal Akhiroh pada mukasurat 138-139 :

باب ما جاء في تلقين الإنسان بعد موته شهادة الإخلاص في لحده

Didalam bab itu juga Imam Qurtuby telah menjelaskan amalan talqin dilakukan oleh para ulama islam di Qurtubah dan mereka mengharuskannya.

Dalam mazhab Maliki juga bercanggah dengan mereka yang mengharamkan amalan talqin.
Dimana anda wahai si pengharam tanpa dalil?!


Mazhab Syafi’e Mengharuskan Dan Mengalakkan Amalan Talqin

1- Imam An-Nawawi As-Syafi’e menyatakan dalam kitab beliau berjudul Al-Majmuk pada jilid 5 mukasurat 303-304 :

قال جماعات من أصحابنا يستحب تلقين الميت عقب دفنه" ثم قال: "ممن نص على استحبابه: القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي"

Yang bermaksud : “ Telah menyatakan oleh ramai para ulama dari mazhab Syafi’e bahawa disunatkan talqin pada mayat ketika mengebumikannya”.

Kenyataan mazhab Syafi’e dari kitab yang sama :

"وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال: التلقين هو الذي نختاره ونعمل به"

Imam Nawawi menyatakan : “ Telah ditanya kepada As-Syeikh Abu Amru Bin As-Solah mengenai talqin maka beliau menjawab Amalan talqin merupakan pilihan kita (mazhab Syafi’e) dan kami beramal dengannya”.
2- Imam Abu Qosim Ar-Rofi’e As-Syafi’e menyatakan dalam kitab beliau berjudul Fathul ‘Aziz Bi syarh Al-Wajiz tertera juga pada bawah kita Al-Majmuk oleh Imam Nawawi pada jilid 5 mukasurat 242 :
"ويستحب أن يُلقن الميت بعد الدفن فيقال: يا عبد الله بن أمة الله ..." إلى اخره .

Yang bermaksud : Digalakkan dan disunatkan mentalqin mayat selepas mengebumikannya dan dibaca : Wahai hamba Allah bin hamba Allah…(bacaan talqin).

Di malaysia kita umat islam kebanyakannya berpegang dengan mazhab Syafi’e. Kenapa anda buat fitnah ke tanah air kita wahai Wahhabi? Dengan memecah belahkan umat islam mengunakan isu talqin. Sedangkan hukum talqin adalah harus berdalilkan dari hadith Nabawi.


Mazhab Hambali Mengharuskan Talqin

1- Imam Mansur Bin Yusuf Al-Buhuty Al-Hambaly menyatakan hukum pengharusan talqin dalam kitab beliau berjudul Ar-Raudul Mari’ mukasurat 104.
2- Imam Al-Mardawy Al-Hambaly dalam kitabnya Al-Insof Fi Ma’rifatil Rojih Minal Khilaf pada jilid 2 mukasurat 548-549 menyatakan :

"فائدة يستحب تلقين الميت بعد دفنه عند أكثر الأصحاب"
Yang bermaksud : “ Kenyataan yang penting : Disunatkan hukum talqin mayat selepas mengkebumikannya disisi kebanyakan ulama ( selainnay hanya mengaruskan sahaja).

Nah! Dimana pula kedudukan Wahhabi setelah hukum keharusan talqin diperjelaskan berdasarkan hadith Nabi dan mazhab empat termasuk mazhab Hambaly..?

Saudara sekalian..pilihlah..anda mahu mengikut ulama islam yang muktabar yang mana mereka mempunyai hujjah dari nas ataupun mahu mengikut Wahhabi yang mengatakan amalan talqin adalah bid’ah lagi haram sedangkan wahhabi tak mempunyai satu dalilpun menyokong fatwa sesat mereka.

Wahhabi…! usah menentang amalan talqin..lebih elok kembali ke pangkal jalan dan memerangi maksiat yang jelas lagi tersuluh diluar sana termasuk memperbetulkan akidah mereka sendiri yang songsang iaitu " Allah Duduk"!
*Nasihat saya bagi pengamal talqin agar tidak menetapkan atau meminta apa-apa bayaran dunia atas perbuatan yang diharuskan itu untuk mengajar diri agar lebih ikhlas kepada Allah.